Saturday February 4 2012
Pahlawan Devisa

Warnet di Bekasi, hampir jam 9 malam WIB. Sejak sampai di Indonesia akses internet jadi sulit, padahal banyak penawaran bagus dari macam2 ISP. Tapi memang untuk bisa settle butuh waktu. Beberapa hari ini aku hanya bisa menikmati internet dari layar 2inch HP-ku. Jadi baru hari ini aku bisa menikmati internet "layar lebar", itu pun di warnet hiks....

OK. Aku akan mulai ceritaku begitu pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Setelah menikmati layanan Emirates yang terhitung bagus, akhirnya pesawat Boeing itu pun bisa mendarat dengan sangat soft. Kata temanku "Pilotnya psti orang Indonesia (hi... ge-er)"

Begitu sampai dibandara, kami langsung mengantri di imigrasi dan melaluinya dengan mulus. Berbeda dengan rekan-rekan TKI yang sempat bercerita kepada kami saat menunggu bagasi. Ada yang dimintai 500 ribu karena kehilangan arrival form dan ada yang harus merogoh kocek sebesar 300ribu rupiah karena passport mendekati akhir masa berlaku. Aku tidak tahu aturan mana yang memberikan kewenangan petugas-petugas itu untuk menarik uang sebesar itu. Padahal jelas-jelas di samping bagian cek imigrasi tersebut tertulis "Selamat Datang Pahlawan Devisa". Beginikah bangsa Indonesia memperlakukan pahlawannya? Menyedihkan. Aku jadi teringat saat transit di Dubai, dimana kami bertemu rombongan pejabat, yang aku perkirakan anggota DPR yang terhormat yang baru pulang dari studi banding. Mereka banyak berdiskusi mengenai perlakuan TKI di bandara Soekarno Hatta. Hai Bapak/Ibu Yth, mohon obrolan mengenai pembelaan TKI di bandara Dubai tersebut bisa diteruskan sampai ke ruang sidang segera, jangan hanya terbuang bersama plastik belanjaan duty free anda.

Di bagian bagasi, kami pun harus dikecewakan dengan layanan yang membutuhkan waktu hampir dua jam untuk mendapatkan semua bagai kami. Padahal Daris sudah merengek kehausan dan Danang duduk kecapaian di troli, bosan menunggu bagasi yang tidak kunjung datang. Aku terus terang malu, karena sudah berusaha mempromosikan wisata Indonesia ke rekan-rekan kerja di Qatar. Bayangkan kalau mereka jadi ke Indonesia dan mengalami kejadian ini. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi padaku. Rekan lain yang datang sehari sesudah itu mengalami kejadian yang persis sama.

Untungnya kekecewaanku sempat terobati dengan ramahnya pelayanan rumah makan siap saji di bandara dan taksi, walaupun sempat kaget bahwa harga makanan di Indonesia sudah mengalami kenaikan yang bisa dibilang signifikan. Setelah itu kami menyusuri jalanan Jakarta yang cukup lancar, karena di akhir minggu sambil terkantuk-kantuk karena kurang tidur.

No votes yet

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.