Saturday February 4 2012
Indonesia Kaya

Sudah lama aku ingin menulis tentang hal ini, tetapi memang bahannya belum cukup. Tulisan ini sudah di dalam draft sejak beberapa bulan yang lalu tanpa ada perkembangan. Tetapi hari ini ada satu tulisan yang membuat aku ingin menyelesaikan tulisan ini.

Tulisan itu memberikan link ke sebuah buku yang berjudul Nasional.is.me, yang setelah aku baca sebagian memberikan insiprasi. Jadi memang tidak ada salahnya sesekali buku ini bisa dibahas bersama. Atau paling tidak buku ini bisa dibacakan ke anak-anak kita yang sudah lama di Qatar yang punya pengetahuan yang sangat minim tentang Indonesia. 

Sekedar menambahkan, berikut ini beberapa pengalamanku selama di Qatar dan membuatku berpikir betapa kayanya Negara Republik Indonesia itu.

Cerita pertama berawal saat aku mengajak anak-anak berbelanja alat tulis di toko alat tulis Rawnaq. Aku senang ke toko ini karena selain lengkap, toko ini memang relatif murah bila dibandingkan dengan toko-toko lainnya. Tidak sengaja aku menemukan tanah lempung/tanah liat yang suka dipakai untuk membuat bahan kreasi keramik. Aku teringat waktu kecil aku senang sekali bermain dengan tanah liat ini. Walaupun tanganku harus kotor, rasanya senang bila bisa menghasilkan tempat pensil karya sendiri. Tanah itu aku ambil dari pinggir danau yang suka kering di musim kemarau yang lokasinya di belakang sekolahku. Aku bisa dengan bebas mengambil berapa pun banyaknya yang aku butuhkan dengan gratis. AKu senang sekali begitu melihat tanah liat ini ternyata dijual di Rawnaq. Tetapi aku juga menjadi kaget juga begitu tahu harga tanah liat itu dijual dengan harga 15QR/kg di Rawnaq. Satu kilogram tanah lempung sebenarnya sangatlah sedikit. Begitu aku lihat bagian belakangnya, barang tersebut adalah produk Cina. Aku jadi terpikir, betapa kayanya Indonesia.

Cerita lainnya adalah ketika aku masih di SMP, ada kebun kecil di belakang rumahku. Biasanya kebun itu kami tanami ubi kayu/singkong. Kami pilih ubi kayu, karena memang karena tanaman mudah tumbuhnya, mudah perawatannya, kalau mau dipanen juga mudah dan bisa dimasak beragam makanan. Aku ingat, kalau saat ingin snack aku tinggal mencabut salah satu pohon yang sudah siap panen dan bersama kakak-kakakku membuat api untuk memanggangnya. Memang muka kami menjadi hitam semua, tetapi rasanya sangatlah menyenangkan. Di Qatar, harga singkong tidaklah murah. Umumnya sekitar 8QR per kilogram. Belum lagi kalau bicara buah-buahan tropis, harganya sangatlah jauh lebih mahal. Apa mau dikata, tanaman yang tumbuh di Qatar adalah kurma dan jenis palem-paleman lainnya.

Itu cuma dua contoh. Ada banyak contoh-contoh lain yang bisa membuka mata kita bahwa Indonesia memang negara kaya. Sumber daya alam yang melimpah, baik yang di dalam bumi maupun di atasnya. Pemandangan yang indah di setiap sudut negeri. Tetapi memang tidak mudah untuk mengurus negara yang luas dengan kultur yang beragam.

Aku setuju banget dengan salah satu tulisan di buku Nasional.is.me di atas:

What we are right now, is a product of our past. If we don;t like what we see today, we change it. We make it happen. It may not be for the benefit of our own, but by God, it will be for the benefit of our children's children.

Your rating: None Average: 5 (1 vote)

Post new comment

By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.