Tuesday February 7 2012
Etalase Bisu Antara Doha - Zekreet
Pukul 6 pagi, jalanan masih agak sepi, mobil yang kutumpangi melaju cepat, menelusuri jalanan kota Doha menuju ke arah Zekreet.
Zekreet sebenarnya bukanlah sebuah kota, lebih tepatnya adalah base camp, tempat penampungan atau akomodasi bagi para pekerja yang bekerja di proyek-proyek daerah Dukhan. Malah sebagian teman-teman secara sarkasme menyebutnya sebagai camp penjara. Zekreet letaknya sekitar 60 km dari kota Doha menuju kearah perbatasan ke Saudi Arabia, dulunya mungkin hanyalah padang gersang, kemudian setelah ramainya proyek-proyek pengeboran minyak di daerah Dukhan, maka di sulaplah daerah tersebut menjadi kota kecil, terdiri dari bangunan-bangunan non permanent (porta cabin) tempat penampungan para pekerja serta beberapa bengkel fabrikasi dan pergudangan.
Kemarin sore bos besar memerintahku untuk berangkat ke Zekreet untuk mengawasi proyek yang ada disana. Proyek terlambat, biaya membengkak, harus ada Cost Control Engineer yang turun langsung kelapangan untuk mengontrol biaya proyek, demikian alasannya yang dikemukakan padaku.

Pohon-pohon kurma berjajar berbaris rapi dipinggir jalan, kebetulan ini lagi musim berbuah, nampak putik-putik buah kurma bergelantungan di dahan-dahan. Sekedar untuk mengusir kantukku, kuabadikan dalam sebuah coretan :

Senandung merdu kembang-kembang kurma,
mengundang kumbang-kumbang untuk menari bersamanya.
Deru angin yang meniup debu-debu gurun,
tak mampu mengusik kesyahduan mereka.

Manoj Ghopal Singh sopir yang menemaniku pagi ini yang orang India itu, asyik menggoyang-goyangkan kepalanya diiringi dentuman musik Hindi yang mengalun mendayu-dayu dari tape recorder mobil. Sekali-sekali dia ikut bernyanyi dengan suaranya yang agak parau.

“ What is the title of this song, Manoj ? “, tanyaku padanya.
“ Kabi Khusi Kabi Gum, sir ”, jawabnya.
“ What is the mean of  that ? “, tanyaku lagi.
“ Sometimes we feel happy, sometimes we feel sad “, jelasnya.
“ Oooh, this is a great song “, pujiku.

Dia semakin bangga karena kupuji lagunya, dan kepalanya semakin keras bergoyang-goyang. Kalau aku tahu artinya semua bait-bait dalam lagu itu, barangkali kepalaku juga ikut bergoyang bersamanya.
Jejeran rumah-rumah dan gedung-gedung sudah mulai berkurang, ini pertanda perjalanan sudah semakin menjauhi kota Doha. Dan lagu Kabi Khusi Kabi Gum pun sudah selesai, berganti dengan lagu yang lainnya.

Beberapa kilometer dari luar kota Doha, disebelah kiri jalan tampak bangunan megah besar dan luas, dan kata si Manoj, inilah istana Emir Qatar, dari kejauhan bangunan itu tampak begitu kokoh dan angkuh, seangkuh wajah-wajah para penghuninya.

Wahai raja-raja dunia, yang bersembunyi dibalik pagar istana
Dijaga para punggawa, dihibur para dayang-dayang jelita.
Jangan kau terlena dalam kemegahanmu
Jangan pula tenggelam dalam kesenangan syahwatmu.

 

Ingatlah pada Maha Raja Langit, yang bersemayam di Arsyi
Yang kekuasan-Nya tiada terkira, kemegahan-Nya tiada terperi
Bersandarlah pada ke Agungan-Nya, agar selamat jalanmu
Bercerminlah pada kematian yang setiap saat menghampirimu

 
I’lamuu Annamal Khayaatud Dunyaa La’ibun Walahwun Waziinatun Watafaakhurun Bainakum Watakaatsurun Fil Amwaali Wal Awlaadi .
“ Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan serta perhiasan/fatamorgana, Dan bermegah-megahan antara kamu sekalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta benda dan anak pinak….”.(Al-Hadiid : 20)
Aynamaa Takuunuu Yudrikkumul Mauta Walau Kuntum Fii Buruujin Musyayyadatin …
“ Dimana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada didalam benteng yang tinggi lagi kokoh….” (An-Nisa : 78)

Al-Sahaniya, kota yang dijuluki sebagai kota onta, disepanjang pinggir jalan nampak kandang-kandang onta berjejer, kota ini memang dirancang khusus sebagai tempat peternakan onta. Majikan-majikan Arab, memperkerjakan orang-orang Pakistan, Bangladesh dan Sudan untuk memberi makan dan memandikan onta-onta serta membersihkan kandang-kandang mereka.
Makanan para onta itu barangkali mungkin jauh lebih mahal dari gaji mereka sebulan, kandang-kandang onta itu barangkali jauh lebih bersih dan megah daripada rumah penampungan para buruh migran itu, dan bahkan mungkin juga bau-bau onta itu jauh lebih harum daripada bau-bau badan para orang suruhan itu.
Beberapa ekor onta yang sengaja dilepas, berkeliaran dipadang-padang gersang, mencari makan dari daun-daun ilalang dan tanaman-tanaman perdu yang tumbuh liar tak beraturan. Tampak beberapa pasang onta sedang dimabok cinta, bercumbu mesra disaksikan ilalang-ilalang tua.

Selepas dari kota Al-Sahaniya, di kanan kiri jalan yang nampak hanyalah padang gersang, hamparan batu karang yang diatasnya bertengger butir-butir pasir, debu-debu gurun dan mungkin beberapa kotoran onta.
Padang gersang dan butir-butir pasir, mengingatkanku pada puisi-puisi Syech Hani Al Hakami, atau yang lebih dikenal sebagai Abunawas / Abunawas (yang berarti bapak Jambul, karena rambutnya yang konon katanya di model Jambul kedepan), bait-bait puisinya yang berjudul Al-I’tiraf (Penyesalan).

Ilaahi Las Tulil Firdausi Ahlan
Wala Aqwa ‘Alaa Naaril Jakhiimi
Dzunuubi Mistlu A’dadi Rimaali
Fahabli Taubatan Zaadal Jalaali

 

Ya Tuhanku, aku bukanlah ahli surga
Tetapi akupun tak sanggup akan panasnya neraka
Dosaku seperti banyaknya butir-butir pasir
Terimalah taubatku, wahai Dzat Yang Maha Perkasa

 
Padang gersang, seperti hatiku yang gersang, butir-butir pasir, sebanyak dosa-dosaku, bahkan mungkin lebih dari itu. Kotoran-kotoran onta, ibarat kotoran-kotoran dosa yang menempel di kalbuku. Rumput-rumput kering, layaknya imanku, yang keropos dan mudah layu. Batu-batu karang, seperti tembok tebal yang memenjarakan nuraniku dari Cahaya Ilahi.
Walladzii Akhrajal Mar’aa (3)
Faja’alahu Ghutsaa An Akhwaa (4)
“ Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan “
“ Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman “ (Al-A’laa : 3 dan 4)

Airmataku meleleh, terbayang wajah kematian yang menyeramkan, tergambar neraka menyala-nyala didepan mata, terekam beragam siksa pedih yang membinasakan, dadaku terguncang, tubuhku bergetar, musik Hindi yang mendayu-dayu dari tap recorder itu tak lagi kuhiraukan.
Walqad Dzara’naa Lijahannama Katsiiran Minal Jinni Wal Insi Lahum Quluubun Laa Yafqahuuna Biha Walahum A’yunun Laa Yubshiruuna Biha Walahum Aadzaanun Laa Yasma’uuna Biha Ulaa-ika Kal An’aam Balhum Adlallu Ulaa-ika Humul Ghaafiluuna
“ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari golongan jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dam mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, Mereka itulah orang-orang yang lalai “. (Al-A’raaf : 179).


Yaa Allah, ampunkanlah dosa-dosa hamba-Mu ini, yang sedari pagi hingga malam selalu lalai kepada-Mu.
Yaa Allah, betapa banyak nikmat dan karunia yang telah Engkau anugerahkan padaku, namun tiada pernah aku bersyukur kepada-Mu.
Yaa Allah, dengan mataku selalu kusaksikan keAgungan-keAgungan-Mu, tetapi aku tetap enggan untuk bersujud pada-Mu.
Yaa Allah, melalui mulutku, Engkau hadirkan beragam kelezatan makanan dan minuman dari rezeki-Mu, sungguh sangat kurang mulutku memuji-Mu.
Yaa Allah, pada telingaku Engkau perdengarkan suara-suara merdu alam semesta, namun telingaku selalu kusumbat dari mendengar seruan-seruan azan-Mu.
Yaa Allah, melalui hidungku, Engkau alirkan nafas kehidupan yang sejuk segar,
tetapi dengan hidungku pula kudenguskan amarah dan kesumat pada-Mu.
Yaa Allah, dalam hatiku, Engkau pasangkan alat pengatur ritme peredaran darah bagi sekujur tubuhku, tetapi hatiku selalu enggan untuk tunduk pada-Mu.
Wahai Dzat Yang melimpah ruah kasih sayang
Wahai Dzat Yang berselendangkan kelembutan
Wahai Dzat Yang penuh bertaburan pengampunan
Wahai Dzat Yang beraromakan keteduhan.
Disini hamba-Mu, yang hina, yang kotor, yang fana, yang jelata, yang papa ini, sedang resah,gelisah dan cemas berharap ridho-Mu.
Adakah Engkau berkenan menerima pertaubatanku……….
 
Doha, 07 Nopember 2009
Rudi Setiawan
Your rating: None Average: 4.5 (2 votes)

Post new comment

By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.