The Biggest Long March - Tentang Qatar

Tentang Qatar

Anything about Qatar, for YOU!

Qatar Agenda

Post Top Ad

The Biggest Long March

Ini merupakan lanjutan cerita tentang perjalanan haji 2008
Pagi itu aku terbangun sekitar jam 3 pagi. Bukan karena kokok ayam dan bukan juga karena bunyi dengkuran yg berirama sepanjang malam. Pagi itu aku bangun karena ada bbrp orang yg melewatiku untuk keluar tenda dan bersiap2 untuk sholat malam. Memang tempat tidurku sangat strategis, yaitu di jalan yang harus dilewati oleh orang2 yg tidur di belakangku. Saking padatnya peserta rombongan haji, sampai2 hamlah tidak menyiapkan tempat khusus berupa jalan untuk lewat.

Aku sebenarnya juga bersyukur, karena aku bisa bangun awal dan bisa masuk ke kamar mandi tanpa harus mengantri panjang, seperti yg ditemui oleh teman2 yg bangun di atas jam 4 pagi. Udara awalnya terasa sangat dingin, sehingga aku mencoba melawannya dengan segelas teh hangat. Dan setelah beraktifitas, ternyata rasa dingin itu hilang dengan sendirinya.

Setelah sholat subuh, kami pun berangkat menuju arofah dengan bus. Tidak ada lagi perbedaan bus 27 dan 49, semuanya sudah menjadi bus 49. Dan juga ada pengaturan baru, dimana ada kelonggaran untuk yg udzur untuk meninggalkan Mudzdalifah setelah lepas tengah malam, Rombongan ini masuk ke dalam bis terpisah. Sedangkan yang lain memang diwajibkan untuk menginap di Mudzdalifah sampai subuh.

Perjalanan menuju Arofah terhitung lancar. Kalau pun ada macet hanya sedikit sekali. Hal ini karena memang jadwal keberangkatan masing2 rombongan berbeda2. Malah ada beberapa rombongan yg sudah menginap di Arofah dari hari sebelumnya. Sebenarnya puhak hamlah juga menawarkan hal in kepada jamaah, tetapi jamaah jelas2 meminta agar mabit di Mina yg sunnah pada tanggal 8 Dzulhijah bisa dilaksanakan juga.

Sampai di Arofah sekitar jam 8 pagi, jamaah langsung menuju tenda yg sudah disediakan untuk masing2 hamlah dan sarapan. Kondisi tenda yang disediakan sangat sederhana. Dengan atap yg tidak terlalu rapat, dan lantai karpet serta tanpa AC. Beberapa bagian dibiarkan terbuka agar angin bisa masuk ke tenda dengan laluasa. Beruntung Desember ini terhitung musim dingin, sehingga kondisi di tenda tidak terasa begitu panas. Mungkin kondisi ini dibuat dengan pertimbangan bahwa jamaah hanya akan tinggal di sana sampai waktu maghrib saja. Itu pun banyak yg akan keluar tenda saat setelah sholat Dhuhur dan Ashar untuk berdoa.

Jumlah toilet yg disediakan pun lebih terbatas bila dibandingkan dengan Mina, sehingga tidak bisa dihindari, antrian menjadi lebih panjang. Kadang2 terjadi juga ribut2 kecil karena ada yg menggedor pintu tidak sabar menunggu. Di sini menjadi tempat bertemu dengan rekan2 dari hamlah lain, seperti Al Eman, Al Haramain, Ar rahman, dan lain2. Jadi sambil ngantri bisa dimanfaatkan untuk silaturrahmi.

Sekitar jam 10.00 Ustadz Saharuddin mulai memberikan ceramah arofah dalam bahasa Indonesia. Dan uniknya, setelah itu, ada juga ustadz dari India yg menyampaikan ceramah dalam bahasa Urdu. Sekitar mendekati tengah hari, makan siang pun dibagikan. Kali ini porsinya sangat besar, berisi nasi dan ikan bakar. Sehingga banyak orang Indonesia yg sharing bedua sampai berempat untuk menghabiskan makanan satu porsi.

Barulah khotbah Arofah yg berbahasa Arab dari Masjid Namiroh diperdengarkan lewat radio dan pengeras suara. Kemudian semua jamaah sholat Dhuhur dan Ashar yang diikuti dengan berdoa masing2 diluar tenda. Ada yg mengambil lokasi naik sedikit ke bukit dan ada yg duduk di samping tenda.

Sesuai kesepakatan, jam 3 sore semuanya sudah kembali ke tenda dan makanan malam berupa roti dalam box pun dibagikan, karena perjalanan akan dilanjutan ke Mudzdalifah. Sekitar jam 4 sore, bis sudah mulai bergerak ke arah perbatasan Arofah. Tetapi tetap saja, bbrp kilometer sebelum perbatasan bis terhenti karena ramainya bus lain yg sudah duluan menunggu di perbatasan. Semuanya menunggu sampai batas waktu maghrib. Pas jam 6 sore (seteleah lewat maghrib), bus yg aku tempati melewati batas Arofah. Dan setelah diperhatikan, ternyata sopirnya mengambil jalur memutar lewat jalan Thaif, yang sangat longgar tanpa kemacetan.

Sekitar jam 8 kami diturunkan di atas jembatan layang. Kata sopirnya, inilah Mudzdalifah dan dibilang bahwa tidak mungkin menjemput nanti saat subuh, karena tidak ada tempat parkir. Padahal waktu itu kami melihat banyak bus2 yg parkir di sekitar lokasi tersebut. Kami mendengar, banyak juga teman2 yg sudah mulai jalan dari Arofah, karena kondisi yg sangat macet.

Setelah itu, kami harus menentukan harus jalan ke arah mana. Untungnya ada dua orang yg membawa GPS yg bisa mempermudah kami mencari arah. Dan setelah mendapatkan tempat yg longgar, kami pun memutuskan untuk bermalam di sana, karena ada pencahayaan lampu yg cukup, ada toilet dan banyak juga yg berjualan makanan dan minuman di sekitar situ. Tikar yg dibawa dari penginapan pun menjadi sangat berguna. Setelah disambung2, area yg kami tempati ternyata cukup luas.

Setelah makan malam, ada bbrp orang yg mencari jalan untuk keesokan paginya. Ternyata lokasi kami tersebut tidak terlalu jauh dari pedestrian road, sehingga bisa mempermudah perjalanan paginya. Malam itu benar2 serasa berkemah. Hidup di bawah langit, dengan makanan seadanya dan tidur seadanya juga. Walau begitu, keakraban semakin terasa diantara jamaah. Sekitar jam 3, sempat juga ada yg jualan ayam goreng Al Baik seharga SR20 yg langsung diserbu jamaah.

Besok paginya aku mendengar bbrp rombongan kecil sudah mulai berangkat. Mulai yg berangkat tengah malam, asa juga yg berangkat jam 3, jam 4, sampai dengan yg berangkat setelah sholat subuh. Berangkat dengan jumlah rombongan cukup besar, sedikit demi sedikit kami berpencar, karena banyaknya dan padatnya orang yg menuju Jamarot. Kami beruntung bisa bergeser ke dinding kiri yg agak lega, sehingga tidak perlu berhimpit2an di tengah.

Sempat juga kami bingung, karena para tentara mensortir barang bawaan. Barang2 yg besar diambil dan disimpan di tempat khusus. Ini dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan di lokasi jumroh. Aku dan teman2 memutuskan untuk meninggalkan barang2 kami yg tidak berharga di suatu tempat yg sudah ditandai, untuk mempermudah pengambilan keesokan harinya. Lokasi sekitar pun kami foto agar mudah mengenali cirinya.

Perjalanan menuju jumroh yg berjarak 4-5 km itu terasa begitu lama karena padatnya orang, sehingga kami tidak bisa bergerak cepat. Untungnya di lokasi jumrohnya sendiri kondisi relatif lega. Kami naik ke jalur lurus yg langsung menuju ke lantai atas. Bisa dibilang tidak ramai sama sekali, malahan di sisi ujung jumroh hampir kosong tidak ada orang yg melempar dari sana.

Waktu menunjukkan pukul 8, perjalanan kembali dilanjutkan ke Masjidil Haram yang berjarak sekitar 5-6 km. Sebenarnya ada alternatif angkutan berupa bus, tetapi saking banyaknya orang, kami memilih jalan terus ke Haram. Di tengah jalan banyak water tap dimana kita bisa mengambil minum dan membasuh muka. Sempat juga kami istirahat untuk sarapan ayam Al Baik yg dibeli tadi subuh. Banyak juga truk dari perusahaan tertentu yg membagikan makanan ke jamaah. Hanya saja antriannya sangat panjang.

Mendekati tengah hari, kami sampai di Haram dan langsung melakukan thawaf ifadhah dan sai haji. Tidak terbayangkan bagaimana lelahnya kaki pada saat itu. Kami sempat beristirahat bbrp kali sebelum meneruskan ke putaran selanjutnya. Kami melakukan thawaf di lantai paling atas atas alasan keamanan dan kenyamanan. Kami lihat dari atas, suasana di bawah sangatlah padat.

Setelah beres semua, kami langsung pulang ke hotel untuk bersih2 dan ganti pakaian. Mencari taksi sangat susah. Kalau pun dapat, harganya sangat tinggi. Beruntung kami bertemu taksi dengan harga yg masuk akal, yaitu 40SR berempat.

Di hotel, makan siang (yg dinikmati sore hari) sudah tersedia. Jadi setelah mandi dan lain2, kami pun makan dan beres2 untuk kembali lagi ke tenda dengan bus yg disediakan. Ternyata ujian kami belum selesai, bus yg kami tumpangi tidak bisa langsung masuk ke Mina, tetapi di suruh memutar ke luar dulu sebelum masuk Mina. Jadi kami harus turun dan kembali jalan ke tenda Mina. Beruntung ada yg membawa GPS, sehingga kami tahu arah mana yg harus diambil, walaupun jarak yg harus kami tempuh 4.5km.

1 komentar:

oyat mengatakan...

salam dari penjuru negeri ,dah lama saya tidak kemari......


www.oyat.co.cc

Post Top Ad