Thawaf Qudum Aja Sudah Padat.... - Tentang Qatar

Tentang Qatar

Anything about Qatar, for YOU!

Qatar Agenda

Tarhib Ramadhan di KBRI Doha 26 Mei 2017 Jam 18-21

Post Top Ad

Thawaf Qudum Aja Sudah Padat....

Ini merupakan lanjutan cerita Haji 2008.
Setelah meletakkan barang di penginapan dan memperbaiki wudhu, rombongan jamaah Doha Transport pun bersiap2 untuk berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan prosesi umrah. Di depan penginapan sudah disediakan bis berukuran Kopaja yang berkapasitas sekitar 20 orang. Bis ini memang disewa hamlah sebagai sarana antar jemput jamaah dari penginapan ke Masjidil Haram.

Perjalanan ke Masjidil Haram ternyata cukup singkat, walaupun jarak yg ditempuh sekitar kurang lebih 10km. Mungkin belum ada kemacetan, jadi bis bisa melaju dengan cukup cepat. Ada enaknya juga punya penginapan yg jauh, karena bisa cuci mata melihat2 kota Makkah. Sesekali ada yang menunjuk2 ke maktab Indonesia atau pun restoran Indonesia. Sepanjang jalan juga bisa dilihat banyak sekali jamaah haji Indonesia yg berjalan2 di setiap sudut kota Makkah.

Sesampai di dekat Masjidil Haram, kami diturunkan di sebuah jalan yg tidak jauh dari Marwa. Ahmad, orang yg menjadi koordinator bis menyatakan bahwa dia akan menunggu jamaah di tempat yang sama sampai dengan jam 22.00, tentu saja dengan menyediakan bis untuk pulang ke penginapan.

Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 15.30, dimana waktu ashar baru saja lewat. Setelah memasuki Masjidil Haram melalui pintu Marwa, jamaah berpencar untuk melakukan ibadah sesuai kenyamanan masing2. Yang sudah sholat Ashar jama' di miqot langsung menunaikan Thawaf, sedangkan yg lain melakukan sholat Ashar terlebih dahulu. Sebagian besar jamaah melakukan Thawaf di lantai paling bawah, walaupun ada juga yg melakukannya di lantai atas dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan.

Thawaf di lantai bawah cukup ramai, karena banyak jamaah haji lain yg juga melakukan thawaf sunnat. Walaupun ramai, arus orang yg berada sekitar Ka'bah masih dalam hitungan lancar. Khusus di sisi Hijr Ismail, sering ada dorongan dari dalam, karena memang ada penyempitan jalan. Semakin mendekati waktu maghrib, kepadatan terus bertambah. Alhamdulillah sebelum subuh aku dan istri sudah bisa menyelesaikan thawaf.

Yang membuat aku prihatin adalah banyak rekan2 kita bangsa Indonesia yg sangat pelit untuk memberikan jalan buat pejalan kaki. Sampai2 ada yg sengaja melebarkan sikunya agar posisinya menjadi aman. Malah bangsa2 lain yg memberikan kami jalan untuk bisa keluar dari lingkaran tengah Masjidil Haram.

Yang kemudian menjadi masalah adalah mencari tempat untuk sholat sunnat dan sholat maghrib. Setelah berjalan cukup jauh ke arah Shafa, aku menemukan lokasi yg cukup bagus. Alhamdulillah, orang2 Turki yg duduk di sekitar itu memberikan tempat yg longgar untuk kami berdua untuk menunaikan sholat sunnat dan Maghrib di shaf mereka.

Selesai sholat maghrib, kami pun menuju Shafa untuk menunaikan sai. Tempat sai tidak seramai thawaf. Apalagi sekarang ada 3 lantai untuk menunaikan sai. Memang di puncak Shafa dan Marwa terjadi kepadatan, karena banyaknya orang yg berdoa di sana. Hal ini hanya sedikit memperlambat kelancaran arus manusia yg melakukan sai.

Setelah sai, kami pun keluar untuk melakukan tahalul dan mencari udara segar. Tepat di dekat pintu Marwa ada satu gedung yg berisi banyak tukang potong rambut. Dengan membayar 10SR, rambutku langsung rata 2mm dalam waktu 1 menit saja.Aku pun meminjam gunting mereka untuk men-tahalul istriku.

Karena sudah dekat Isya, kami pun menunggu waktu Isya di sana. Karena padatnya orang dan tidak memungkinkan untuk masuk, kami akhirnya memutuskan sholat di sisi luar Masjid.

Selesai sholat Isya, kami pun mencari makanan, karena sudah sangat lapar. Kami pun melihat ada retoran Turki di dekat KFC. Karena semua menunya berbahasa Turki, aku pun menanyakan namanya dengan cara menunjuk makanan yg aku ingin beli. Menurut kokinya, nama nasi tersebut adalah "Turki rice". Aku pun ke kasir memesan "turki rice and chicken barbeque". Kemudian si kasir yg orang arab menjawab: "Nasi 5 real sama Ayam 12 real, jadi 17 real". Masya Allah, ternyata dia lancar berbahasa Indonesia. Kalo tahu dia ngerti bahasa Indonesia, kenapa repot2 nanya menu ke koki :(

Tantangan selanjutnya adalah rebutan dan ngejar2 bis. Maklum, karena pertama kali naik jemputan dan sudah pada capek, jadi terjadi insiden rebutan masuk bis. Padahal sebenernya, kalo mau sabar nunggu, bis yg disediakan hamlah cukup banyak. Sampai2 ada yg membayar 30SR naik taksi ke penginapan.

Sampai di penginapan kami pun mandi, makan dan istirahat.

Tidak ada komentar:

Post Top Ad