Bahasa Arabnya "Tambal Ban" Apa, ya? - Tentang Qatar

Tentang Qatar

Anything about Qatar, for YOU!

Qatar Agenda

Tarhib Ramadhan di KBRI Doha 26 Mei 2017 Jam 18-21

Post Top Ad

Bahasa Arabnya "Tambal Ban" Apa, ya?

Ini merupakan tulisan keempat cerita serial perjalanan umrah (Doha - Jeddah - Mekah - Madinah - Riyadh - Doha) lewat darat berdasarkan pengalaman pribadiku di awal April 2008. Klik untuk membaca cerita pertama, kedua dan ketiga.


Tidak terasa sudah dua malam aku menginap di mekah. Penduduk kota ini terasa punya karakter yang keras. Tidak heran, karena kota ini memang dikelilingi batu cadas yang keras. Dari dalam kamar hotel aku bisa melongok keluar, dimana pembangunan rumah/gedung harus terlebih dahulu menghancurkan bebatuan. Sangat sulit. Kondisi Masjidil Haram pun saat ini sedang mengalami perombakan besar2an. Banyak bangunan sekitar Masjid yg diruntuhkan demi untuk memperbesar area Masjid. Sai diantara Safa dan Marwa pun terasa agak sempit, karena efek pemugaran tersebut.

Setelah puas berumrah, beribadah dan berziarah, aku pun bersiap ke Madinah. Rencana ke Madinah ini sedikit berubah, karena masing2 punya tujuan yg berbeda. Ada yg mau belanja ke Jeddah dulu, ada yg mau mampir ke rumah sodara, sedangkan aku berniat berkumjung ke rumah teman di Jeddah. Sebenarnya aku sendiri belum mengenal teman yg satu ini. Lho? Iya, dia itu temannya temanku. Perjalanan ini tidak hanya nambah pahala, tetapi juga nambah teman nambah sodara.

Sesampai di Jeddah kami dijamu ayam bakar. Wow. Mantap. Memang daerah tempat tinggal temanku itu di sebut sebagai "kampung melayu", karena saking banyaknya orang Indonesia yg tinggal di situ. Lumayan bia bercerita dan berbagi pengalaman. Ternyata sewa rumah di Jeddah jauh lebih murah dibanding Doha. Dengan uang yang sama dengan sewa setahun di Jeddah, di Doha cuma bisa untuk sewa 2 bulan saja.

Setelah puas istirahat, kami diajak keliling kota. Ternyata Jeddah merupakan kota pelabuhan. Tidak banyak yg bisa dilihat, sehingga kami sepakat untuk meneruskan perjalanan ke Madinah. Setelah masuk jalan antar kota, ternyata kami bertemu lagi dengan rombongan lain. Akhirnya kami pun bergabung lagi.

Sesampai di Madinah kami sempat terpisah karena kena bbrp lampu merah. Untungnya Madinah adalah kota yg nyaman dan relatif lebih teratur dibanding Mekah. Sehingga dengan hanya bermodal peta, akhirnya aku bisa menemukan hotel yg sudah aku book sebelumnya, Intercontinental Dar Al Hijra. Di sini ratenya cukup bagus dan lokasinya pun masih bisa menjangkau Masjid Nabawi dengan jalan kaki. Parkiran pun tersedia di baseman, walaupun sangat terbatas.

Di Madinah, aku sempatkan juga untuk mencuci mobil. Maklum perjalanan jauh membuat mobil kotor luar dalam. Tidak nyaman untuk ditumpangi. Sayangnya pas nanya ke petugas hotel, dia nggak ngerti bahasa Inggris. Akhirnya aku mencari pom bensin terdekat. Alhamdulillah di sana ada cucian mobil. Antriannya tidak banyak. Tetapi komunikasi terpaksa menggunakan "bahasa tarzan". Begitu pula pada saat aku butuh menambal ban, bbrp kali aku mencoba meminta dia menambal ban, teteup nggak ngerti. Akhirnya pakunya aku cari sendiri dan ditunjukin ke dia. Baru dia ngerti bhw bannya harus ditambal. Fyuh...

Ada juga cerita teman yg mencari air mineral. Pada saat masuk ke toko, dia bilang "Do you have water? drinking water...". Si pelayan toko bingung nggak ngerti. Setelah lama nggak ngerti2 juga, akhirnya dia coba cari sendiri dan ditunjukkan barangnya. Si pelayan langsung bilang: "ooo... air" Memang ternyata orang2 di Mekah dan Madinah lebih ngerti bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Inggris :)

Baca Juga
- Part1: Nyetir 12 jam non-stop
- Part2: Saat2 mendebarkan di border saudi
- Part3: Sesampainya Aku di Mekah

- Umrah Plan1: Hamlah dan Syarat2
- Umrah Plan2: Suntik Meningitis
- Umrah Plan3: Menunggu Visa Keluar
- Umrah Plan4: Visa Keluar

2 komentar:

Risman mengatakan...

pak syarif, kalo di mekkah dan madinah lebih baik menggunakan bahasa indonesia saja atau bahasa arab krn bahasa inggris mereka gak mau.

di jeddah, itu banyak juga sich tempat-tempat yg bisa dikunjungi cuman harus malam hari rame-nya spt. air mancur jeddah corniche, kawasan masjid terapung jeddah terus banyak juga plaza dan mall-mall yg memang mirip kayak doha sich tapi harganya lebih murah banget..., makanya kalo lihat orang-orang qatari pulang dari saudi pasti banyak banget belanjaan-nya....

Syarif Achmad mengatakan...

syukron, pak Risman atas infonya

Post Top Ad