Nyetir 12 Jam Non-Stop - Tentang Qatar

Tentang Qatar

Anything about Qatar, for YOU!

Qatar Agenda

Post Top Ad

Nyetir 12 Jam Non-Stop

Ini merupakan tulisan kedua cerita serial perjalanan umrah (Doha - Jeddah - Mekah - Madinah - Riyadh - Doha) lewat darat berdasarkan pengalaman pribadiku di awal April 2008. Cerita pertama ada di sini

Setelah melalui proses yg menegangkan di border Saudi, perjalanan kami lanjutkan. Kami berangkat dari border Saudi sekitar jam 8 pagi. Memang banyaknya anggota rombongan membuat waktu yg kami habiskan di border cukup banyak.

Perjalanan menjadi kembali menyenangkan. Walaupun sepanjang jalan yang terlihat hanya padang pasir, tetap saja pengalaman pertama ini terasa menakjubkan. Jalanan di Saudi luas dan bagus. Dalam satu arah ada tiga jalur. Jalur paling kanan sering dipakai oleh truk dan bus, jadi memang yg paling nyaman adalah berada di jalur tengah. Sesekali kami melihat rombongan unta di sisi jalan. Di sini aku juga melihat unta berwarna hitam. Apa karena sering berjemur, ya? :)

Pada awalnya kecepatan mobil dipatok sekitar 140 km/jam. Itu saja sudah membuat aku sedikit ngeri. Maklum, maksimum kecepatan yg diizinkan adalah 120km/jam. Di atas 120 km/jam pun mobilku sudah mulai memberi tanda tiit...tiit...tiit. Ternyata lama kelamaan, 140km/jam pun terasa pelan, dan bunyi tiit...tiit...tiit menjadi hal yg biasa. Pelan2, teman2 sudah mulai menggenjot mobilnya dengan kecepatan 160 km/jam. Sesekali aku tertinggal, dan terpaksa ngebut sampai 180km/jam untuk mengejar rombongan yg lain. Maklum, dari satu rombongan itu hanya aku dan ketua rombongan yg tidak membawa GPS. Kalo nyasar, gimana? Wong padang pasir semua :(

Tantangan pertama perjalanan ini adalah angin keras dari sebelah kiri yg membawa pasir. Mungkin ini yg disebut orang sand-storm. Setir mobil menjadi begitu berat, sedangkan pandangan sesekali tertutup debu. Untungnya hal ini berjalan tidak terlalu lama. Setelah agak siang, jalanan kembali adem ayem.

Setiap 300km kami berhenti sebentar untuk mengisi bensin dan melepas ketegangan otot dan ke toilet. Tapi tentu saja kami tidak bisa berlama2 di sana, karena harus "ngejar setoran". Memang tidak mudah juga mencari pom bensin di sepanjang perjalanan. Jadi, begitu tangki bensin sudah mulai kurang dari separo, kami mulai mencari2 pom bensin. Harganya sendiri sangat murah. Hanya 0.6 riyal per liter. Itu sudah bensin dengan oktan yg tinggi.

Tepat tengah hari kami melepas lelah di salah satu pom bensin setelah kota Riyadh. Kebetulan di sana ada Sholat Jumat, jadi kita istirahat sambil sholat jumat. Dari rumah memang kita sudah membawa bekal untuk makan di perjalanan, sehingga tidak ada kesulitan dalam urusan pangan. Malah kita sempat tukar menukar lauk dengan sesama rombongan. Seru juga sih...

Selepas itu pemandangan relatif sama terus sampai dengan jam 6 sore. Sesekali ada check point dimana kita diminta memperlambat mobil, karena ada polisi. Sempat ada rekan yg tertahan oleh polisi, karena sedikit ngebut di-check point ini.

Rencananya memang kita ingin menginap di Thaif, sebuah kota kecil di dekat Qarn Manazil, tempat miqat (tempat dimana kita menukar pakaian dengan ihram). Thaif ini cukup nyaman, karena hanya sekitar 1 jam perjalanan ke Mekah. Sayangnya perjalanan masih cukup jauh. Dengan tekad bulat kita berusaha mencapai Thaif sesegera mungkin. Sebenarnya aku melihat banyak penginapan di sisi jalan pada saat melewati Daerah Zalim. Tapi sayangnya semuanya mau terus aja. Apa boleh buat.

Perjalanan di malam hari sangatlah tidak nyaman, dan juga tidak aman. Kecepatan mobil yg tinggi dan tidak adanya lampu jalan memang membuat otot2 leher menjadi tegang. Sesekali aku kehilangan teman2 yg sudah jauh melaju di depan. Perjalanan hanya berdasarkan garis2 marka jalan dan lampu mobil2 di depan. Untungnya mobil2 yg dibawa teman2 agak jarang di Saudi, jadi agak mudah untuk mengenalinya.

Setelah dua jam bergelut dengan ketegangan, akhirnya kami menemukan kota Thaif, Alhamdulillah. Sebenarnya tempat yg kita tuju adalah pinggiran kota Thaif. Kotanya sendiri masih sekitar 30km lagi. Nah, di sekitar situ ada bbrp penginapan yg lumayan oke dan murah :D Saya dan rekan2 memutuskan untuk menginap di salah satu hotel apartemen yg ada tulisan "Markaz Shalah". Di dekat situ ada masjid dan beberapa fasilitas lainnya seperti pom bensin, Fast Food dan supermarket.

Awalnya kami diberikan harga 200SR per malam, dimana itu sudah diskon. Biasanya sekitar 250SR, begitu kata mereka. Tapi setelah menawar dengan bahasa tarzan (karena pengelolanya tidak bisa berbahasa Inggris), akhirnya kami bisa mendapatkan harga 170SR/malam. Harga segitu sudah termasuk satu apartemen lengkap dengan 2 kamar tidur, 2 kamar mandi dan dapur beserta isinya. Aku sendiri sharing dengan salah seorang teman. Lumayan...bisa ngirit :P

Tidur dulu ah......

Baca juga:
Umrah Trip #1: Saat2 Mendebarkan di Border Saudi

3 komentar:

Stargazer mengatakan...

wow, catitan yg menakjubkan

Wahyudi mengatakan...

sorry yaa.., saya nggak minta ijin untuk mengekspose fotonya di:
http://palwono.multiply.com/photos/album/9/Tamu-tamu_Kami#2

Syarif Achmad mengatakan...

Mas Wahyudi, terima kasih sudah memajang foto kami. Gratis, kan? hehehe

Post Top Ad