Setelah beberapa lama membawa mobil di Jakarta, mau tidak mau aku mulai membandingkannya dengan gaya nyetir di Doha. Bak kata pepatah: "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya". Ada beberapa kemiripan dan perbedaan yang dapat menggambarkan situasi jalanan di kedua kota sebagai berikut:
- Jalanan di Doha didominasi oleh mobil-mobil ber-cc besar, sekelas LandCruiser yang hobi ngebut. Sedangkan di Jakarta, jalanan dipenuhi oleh motor yang senang menyelip diantara mobil-mobil dalam kemacetan lalu lintas. Kedua-duanya membuat sopir lainnya deg-degan takut ketabrak/keserempet.
- Kalau di Doha, bila ada tanda batas kecepatan maksimum 80km/jam, maka si sopir akan nyetir dengan kecepatan lebih dari itu, kecuali bila ada radar. Lain halnya dengan Jakarta. Walaupun di jalan tol ada patokan maksimum 80km/jam, tetap si sopir hanya bisa pasrah ngebut maksimum 60km/jam, karena macet.
- Di Doha, kalau ada yang nyerobot atau menyalip asal-asalan, kemungkinan besar akan diomel-omelin oleh sopir mobil di dekat itu sambil tangannya menari-nari tanda protes. Sedangkan kalau di Jakarta, setelah menyerempet spion mobil lain, biasanya pengendara motor melambaikan tangan sambil senyum tanda minta maaf. Sedangkan mobil yg keserempet cuma bisa ngedumel karena motornya sudah kabur jauh.
- Begitu lampu merah berubah menjadi hijau, otomatis klakson mobil di Doha berbunyi, terutama bagi sopir-sopir mobil-mobil besar. Sedangkan di Jakarta, klakson berbunyi tiga detik sebelum lampu hijau menyala. Sepertinya sopir-sopir Jakarta faham betul kapan lampu merah berganti menjadi hijau.
- Pada saat memasuki bundaran atau roundabout, sopir Jakarta cenderung melambat, sedangkan sopir Doha akan tancap gas.
- Sopir Doha saat ini sudah mulai takut untuk melanggar lampu lalu lintas (karena takut kena denda yang lumayan tinggi), sedangkan untuk sopir Jakarta melanggar lampu lalu lintas itu sudah menjadi hal yang biasa (kalau tidak ada polisi).
- Parkir di Jakarta harus bayar, kalau di Doha gratis (kecuali di beberapa lokasi tertentu seperti bandara).
